Selasa, 26 Februari 2008

Asal usul bahasa Indonesia

BAHASA adalah yang paling baik dalam menunjukkan identitas kultural suatu bangsa.Dengan kata lain bahasa menunjukkan bangsa. Itu sebabnya penting bagi bangsa Melanesia melestarikan sekitar 250 bahasa etnisnya dari arus besar dominasi ‘bahasa Indonesia’. Sejauh mana dominasi itu? Apa dampaknya? Bagaimana proses historisnya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penting sebagai upaya melestarikan identitas bangsa Melanesia, yang selama ini ‘lebur’ dalam “NKRI” dan dalam banyak hal justru mengalami Jawanisasi. Ini kontradiktif dengan gagasan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Dewasa ini, bangsa Melanesia menggunakan bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa ini adalah “bahasa pemersatu”, yang mendapat tempat utama dalam media komunikasi formal, baik sebagai bahasa teks maupun lisan, disekolah, perkantoran dan tentu saja pada media cetak dan elektronik.
Memang ada sisi baiknya, bahwa ‘bahasa Indonesia’ memainkan peran penting sebagai “jembatan” komunikasi menerobos diversitas linguistik yang berbeda satu sama lain (termasuk di Papua), dan memungkinkan para penuturnya menjangkau dunia pendidikan modern. Namun mesti disadari pula akan sisi buruknya, terutama bahwa ‘bahasa Indonesia’ menjadi dominan sehingga bahasa-bahasa lain keumgkinan akan tersisihkan. Entah bahasa Batak, Jawa, Bali dan termasuk 250 bahasa etnis Melanesia di tanah Papua. Padahal Bahasa Indonesia baru digunakan secara serius sejak 1950 di Papua oleh para pendakwah dan pejabat kolonial dalam rangka ‘menyatukan’ wilayah Papua dengan wilayah Hindia Belanda lainnya. Hal ini seiring dengan kebijakan diskriminasi kolonial Belanda yang hanya memperbolehkan bahasa Belanda diajarkan pada garis keturunan tertentu saja.
Apabila menenggok lebih jauh ke masa sebelumnya, maka bangsa Melanesia sebenarnya belum cukup dikenal para nasionalis Indonesia, selain sebagai koloni Belanda yang dalam banyak hal tidak terlibat langsung dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Diluar itu, wilayah ini cukup terisolir dari koloni Belanda di sebelah barat, kecuali wilayah pesisir utara yang menjalin hubungan dagang tradisional dengan Maluku. Selebihnya hanya bayang-bayang penjara besar - Boven Digul, di tengah sebagian besar masyarakat yang masih hidup di zaman batu (Benedict Andersson: 2002)
Ini berarti bangsa Melanesia, tidak terlibat dalam beberapa proses sejarah penting, terkait dengan penggunaan bahasa Indonesia. Pertama, saat bahasa Indonesia dipermaklumkan sebagai bahasa persatuan pada Sumpah Pemuda 1928, tidak ada yang mewakili bangsa Papua dalam peristiwa tersebut, kedua, saat bahasa Indonesia dianjurkan semasa pendudukan Jepang untuk menggusur bahasa Belanda, hal itu tidak terjadi di Papua, apalagi karena pertimbangan militer dan kondisi sosial politik waktu itu, Jepang membagi Hindia Belanda menjadi tiga wilayah koloni terpisah, dan Papua berada dibawah Angkatan Laut yang berpusat di Makasar, ketiga, saat bahasa Indonesia dipergunakan sebagai wahana perlawanan menyerang kolonialisme yang dipuncaki proklamasi kemerdekaan RI 1945, justru bangsa Papua belum ‘mengenal’ NKRI.
Dari tiga fakta ini, bisa dibilang bahasa Indonesia adalah produk historis yang dalam prosesnya tidak sepenuhnya melibatkan bangsa Melanesia. Barulah pada tahun 1963 ketika Orde Lama mencanangkan operasi Trikora, dan disusul pelaksanaan Pepera semasa Orde Baru tahun 1969 bahasa Indonesia mulai dijadikan ‘bahasa resmi’ di Papua.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia yang sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Meski demikian, ia hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing sebagai bahasa ibu seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dll. Untuk sebagian besar lainnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi bahasa Indonesia adalah bahasa pertama. Bahasa Indonesia ialah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi Republik Indonesia Kata "Indonesia" berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu Indos yang berarti "India" dan nesos yang berarti "pulau". Jadi kata Indonesia berarti kepulauan India, atau kepulauan yang berada di wilayah India
Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang dinamakan 'Bahasa Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia". atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia".
Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap "lahir" atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya.
Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah. Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai penghantar pendidikan di perguruan-perguruan di Indonesia.
Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).
Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.
Bahasa Melayu Riau dipilih sebagai bahasa persatuan Negara Republik Indonesia atas beberapa pertimbangan sebagai berikut:
Jika bahasa Jawa digunakan, suku-suku bangsa atau puak lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan puak (golongan) mayoritas di Republik Indonesia.
Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan dengan bahasa Melayu Riau. Ada tingkatan bahasa halus, biasa, dan kasar yang dipergunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila pengguna kurang memahami budaya Jawa, ia dapat menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.
Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan Bahasa Melayu Pontianak, atau Banjarmasin, atau Samarinda, atau Maluku, atau Jakarta (Betawi), ataupun Kutai, dengan pertimbangan pertama suku Melayu berasal dari Riau, Sultan Malaka yang terakhirpun lari ke Riau selepas Malaka direbut oleh Portugis. Kedua, ia sebagai lingua franca, Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa Tionghoa Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.
Pengguna bahasa Melayu bukan hanya terbatas di Republik Indonesia. Pada tahun 1945, pengguna bahasa Melayu selain Republik Indonesia masih dijajah Inggris. Malaysia, Brunei, dan Singapura masih dijajah Inggris. Pada saat itu, dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, diharapkan di negara-negara kawasan seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa ditumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara-negara jiran di Asia Tenggara.
Dengan memilih Bahasa Melayu Riau, para pejuang kemerdekaan bersatu lagi seperti pada masa Islam berkembang di Indonesia, namun kali ini dengan tujuan persatuan dan kebangsaan.Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian distandardisasi (dibakukan) lagi dengan nahu (tata bahasa), dan kamus baku juga diciptakan. Hal ini sudah dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.

5 komentar:

Anonim mengatakan...

saya tertarik dengan tulisan anda.
tolong dong kasih saya pendapat. Apakah kemajemukan bahasa-bahasa daerah di indonesia mejadi dasar terbentuknya bahasa nasional kita bahasa indonesia? Kontribusi apa yang diberikan bahasa daerah tersebut terhadap bahasa nasional?

saya tunggu. (Budi S)

L33A mengatakan...

tolong diperjelas lagi asal-usul bahasa indonesia sehingga menjadi bahsa persatuan!
apabila bahasa indonesia berasal dari bahasa melayu, secara logika, seharusnya istilah dan diksinya harus sama, tetapi pada kenyataannya banyak sekali perbedaan...ko bisa ya?

Anonim mengatakan...

Saya tidak setuju jika bahasa indonesia berakar dari bahasa melayu. Justru bahasa melayu adalah bahasa indonesia yang sudah bercampur baur dgn budaya luar. Menurut saya, Bahasa indoensia adalah serapan dari bahasa Sangsekerta, berikut referensi link (wikipedia) http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kata_serapan_dari_bahasa_Sanskerta_dalam_bahasa_Melayu_dan_bahasa_Indonesia_modern
Karena saya yakin dahulu kala, Indonesia adalah pusat peradaban dan pusat budaya. Bukti dan otentik sejarah adalah banyak diketemukannya prasasti dan batu tulis dgn huruf-huruf tua ditempat berbeda di Nusantara. Apakah dinegara tetangga diketemukan pula prasasti spt ini? Bukti ini menandakan adanya perbedaan fase pada suatu zaman kala itu. Selain itu, bangunan candi adalah catatan sejarah untuk dipikirkan dimasa mendatang. Apakah dinegara lain juga terdapat candi? Mungkin nanti mereka kedepan malah buat candi palsu, agar status mereka diakui dunia. Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah !

Anonim mengatakan...

Anggapan bahwa bahasa Melayu Nusantara yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia berasal dari Melayu Deli mendapatkan tandingan. Peneliti di Universitas Brunei Darussalam Prof Madya DR Haji Jalaludin menyatakan bahwa bahasa Melayu Nusantara berakar pada Melayu Sambas, Kalimantan.



PERNYATAAN mengejutkan yang bisa jadi akan menimbulkan polemik tersebut disampaikan Jalaludin saat menghadiri silaturahmi mahasiswa program bahasa Melayu dan Linguistik Universitas Brunei Darussalam di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura, Pontianak, Selasa lalu (29/12). Dia menyatakan sudah membukukan hasil penelitiannya tersebut.

Buku itu membahas asal-usul bahasa Melayu Indonesia yang disebutnya berakar pada bahasa yang digunakan masyarakat Sambas, Kalimantan Barat. “Buku ini merupakan hasil penelitian saya dari tahun 1996-2000,” ungkapnya.

Penelitian yang dijadikan bahan buku tersebut, menurut Jalaludin, difokuskan pada asal-usul bahasa Melayu di Kalbar, Kaltim, Kalsel, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Termasuk di negeri tetangga, Malaysia dan Brunei Darussalam. Judul buku tersebut adalah Posisi Bahasa Melayu Hudai dalam Bahasa Melayu Purba.

Berdasar hasil penelitian itu disimpulkan, asal bahasa Melayu di Indonesia serta bahasa serumpun dari Malaysia dan Brunei adalah bahasa Melayu Sambas. “Saya ingin menepis anggapan yang selama ini terjadi bahwa bahasa Melayu Nusantara berasal dari bahasa Melayu Deli di Sumatera,” terangnya.




Jalaludin mengumpulkan beberapa kosakata bahasa Melayu di Sambas dari beberapa literatur. Kemudian, dia membandingkan dengan bahasa Melayu di beberapa daerah lain di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bahasa Melayu Sambas merupakan akar dari bahasa Melayu Nusantara dan bahasa Melayu serumpun. “Bahasa Melayu Sambas menyebar ke beberapa daerah lainnya di Indonesia, seperti Sumatera, Malaysia, dan Brunei Darussalam,” tambahnya.

Hasil penelitian itu, menurut Jalaludin, juga membantah hasil penelitian sarjana Belanda yang menyebut bahwa bahasa Melayu Nusantara berakar dari Indo-China. Dia menegaskan, hasil penelitian sarjana Belanda itu tidak berdasar. “Dari segi perubahan bunyi bahasa Melayu yang ada di Indonesia dan Bahasa Melayu serumpun jika dibandingkan dengan bahasa Indo-China, jelas bunyinya sangat jauh berbeda,” jelasnya.

Menurut dia, bahasa Melayu di Sambas, Kalbar, memiliki kesamaan dengan bahasa Melayu Nusantara. Kalaupun ada perubahan, itu terpola. ”Bahasa Melayu purba ada empat intonasi, a, i, u, dan e dan itu berada di Sambas. Kemudian, berkembang ke Brunei menjadi tiga. Berkembang ke Sumatera menjadi enam. Berkembang ke Malaysia menjadi tujuh dengan perubahan yang teratur. Maka, kita berani mengklaim bahwa akar bahasa Melayu di Indonesia, Malaysia, dan Brunei berasal dari Sambas,” tegas Jalaludin.

Dia juga mengungkapkan, hasil penelitiannya itu didukung para sarjana dari Barat. Meski ada juga klaim yang mengatakan bahwa bahasa Melayu tersebut berasal dari Sumatera. Hal itu disebabkan klaim tersebut hanya berdasar penemuan-penemuan situs purba, seperti makam, prasasti, dan beberapa benda lainnya.

Hal itu, lanjut Jalaludin, sangat bertolak belakang dengan proses penyebaran bahasa. Sebab, secara logika, untuk mewujudkan suatu tulisan di batu nisan, yang berwujud terlebih dahulu adalah bahasanya, kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.

”Saya beranggapan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang diwarisi dari zaman ke zaman yang menyebar melalui proses perpindahan. Jika diteliti dari segi historis, kesultanan yang ada di Sambas memiliki satu keturunan dengan kesultanan di Brunei. Demikian halnya kesultanan di Ketapang,” jelas Jalaludin. 

Anonim mengatakan...

kenapa indonesia tidak ikut menggunakan bahasa inggris yang sudah menjadi bahasa internasional dari dulu? bukankah sejak zaman dahulu yang menjajah bangsa indonesia adalah bangsa eropa pastinya sedikit-sedikit banyak menggunakan bahasa inggris dari dulu dong?!